• GERBANG KOMPETISI MASA DEPAN

SIBUKKAN DAN KENALI DIRIMU ( Rahmi Ifada )

“Jam 19.20 ada chat masuk dari nomer yang tidak dikenal. Memperkenalkan dirinya, sebut saja Denisa siswi salah satu SMAN di kota ini. Menyampaikan hal yang menurutnya pelik dan bingung sehingga membuat ketakutan di dalam dirinya. Selanjutnya terjadilah dialog panjang yang menceritakan dirinya  merasa sudah tidak suci, penuh dosa karena telah melakukan hal-hal yang dilarang agama dalam batasan pergaulan dengan lawan jenis “. Sebagai pendengar yang baik tentu saja keluhan, tangisan dan semua hal dicurahkan Denisa yang berujung kepada bagaimana sebenarnya cara mengatasi pergaulan remaja yang diluar batas norma-norma agama?”

Kasus   di atas telah menjadi gejala sosial yang merebak di kalangan remaja, dengan kepribadian  yang unik  dalam perkembangan manusia dimana mereka mengalami banyak transisi dalam kehidupannya. Mereka mengalami hal ini karena banyak angan-angan, cita- cita,  cinta dan ide yang bermunculan, fase dimana remaja berada dalam proses pencarian jati diri,  mempunyai cita-cita yang besar ingin menjadi siapa dan menjadi apa. Dan bila melihat sesuatu yang lebih menarik dan lebih menguntungkan, merekapun ingin seperti itu. Di sisi lain, cita–citanya kadang masuk akal bila hal tersebut sesuai dengan situasi dan kondisi yang bersangkutan. Namun,  seringkali menggantungkan cita-citanya setinggi langit sementara ia tidak menengok situasi dan kondisi yang ada. Terkadang remaja mempunyai angan–angan yang muluk yang tersimpan dalam hatinya, maka angan–angan tersebut tinggal angan semata, sementara dirinya juga telah menjadi pemimpi yang ulung artinya suka memimpikan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi pada dirinya sendiri.

Dalam ketertarikan dengan lawan jenis, biasanya seorang remaja laki – laki mulai mempunyai keberanian untuk menggoda seorang perempuan. Begitu pula sebaliknya, jika perempuan sudah mulai bersolek, senang berdandan, berlama-lama di depan cermin dan tampil secantik mungkin agar dapat menarik simpati dari lawan jenisnya. Gejala yang seperti itu adalah wajar dan normal, timbulnya cinta kasih adalah fitrah bagi manusia bahkan menggejala menjadi satu keniscayaan. Boleh-boleh saja mempunyai cita-cita dan menjalani sebuah cinta untuk menggapai kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Namun kesemuanya itu perlu kendali dan pegangan hidup agar tidak menjadi berbeda fungsi dan tujuan yang ini tentu saja menjadi hal yang sangat penting untuk diarahkan.
Sebagai remaja yang beragama dan beriman harus mempunyai idealisme dan giat bekerja sesuai dengan kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya. Ini merupakan salah satu jalan menuju tercapainya cita- cita. Selanjutnya ketika menjalani cinta dan mencintai seseorang harus disertai dengan tuntunan akhlak dan pegangan agama yang kuat, sebab agama dan akhlak mulia sebagai kendali utama atau sebagai rem tangan agar tidak melampui batas dalam bergaul dengan lawan jenisnya.  Dan disinilah sering terjadi pelanggaran dalam bercinta yang batasan aturan telah diterjang, maka akan terjadi pergaulan bebas dalam bentuk free sex, karena itu pembekalan ilmu agama melalui pendidikan agama dan akhlak mulia bagi mereka sangat penting sebagai tameng agar tidak mudah terpengaruh oleh hal yang bersifat negatif yang dapat merusak dirinya sendiri dan terlanjur telah dilakukannya.

Dalam perkembangan menjalani hari-harinya mereka sangat membutuhkan sentuhan agama dengan baik, pendekatan persuasif agar mereka dapat tumbuh dengan aman dalam menjalani kehidupannya dan ini tentu saja membutuhkan arahan dan bimbingan dari orang dewasa secara terus menerus dan berkelanjutan.

Segala persoalan dan problema  terjadi dalam kasus-kasus pergaulan bebas dan lepas kontrol,  sebenarnya  berkaitan erat dengan usia yang mereka lalui dan tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan dimana mereka tinggal. Dalam hal ini  faktor yang memegang peranan penting dalam kehidupan remaja adalah penguatan dalam kehidupan beragamanya dan bagaimana cara mengatasi permasalahan dalam kehidupannya.

Sebenarnya mereka itu   di usia masa peralihan, transisi perpindahan    seseorang dari kanak-kanak, anak-anak menuju dewasa. Jika anak-anak sudah jelas kedudukannya, yaitu yang belum dapat hidup sendiri, belum matang dari segala segi, tubuh masih kecil, organ-organ belum dapat menjalankan fungsinya secara sempurna, kecerdasan, emosi dan hubungan sosial belum selesai pertumbuhannya, hidupnya masih tergantung orang dewasa, belum dapat diberi tanggung jawab atas segala hal.  Pada masa Dewasa semua terlihat semakin jelas. Pertumbuhan jasmani telah sempurna, kecerdasan dan emosi telah cukup berkembang. Segala organ dalam tubuh telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Di samping itu orang dewasa telah mampu mencari rezeki untuk kepentingan dirinya dan tidak bergantung dengan orang lain. Dewasa telah dapat diberi tanggung jawab dan mampu memikul tanggung jawab tersebut.

Lain halnya dengan remaja. Jika dilihat dari tubuhnya, dia telah menjadi seperti orang dewasa, jasmaninya telah jelas berbentuk laki-laki atau wanita. Organ-organnya telah dapat pula menjalankan fungsinya. Dari segi lainnya, remaja sebenarnya belum matang segi emosi dan sosialnya, masih memerlukan waktu untuk berkembang menjadi dewasa. Dan kecerdasanpun sedang mengalami perkembangan, mereka ingin berdiri sendiri, tidak tergantung orang lain atau orang tuanya, akan tetapi belum mampu bertanggungjawab dalam hal ekonomi dan sosial.

Permulaan masa remaja, dimulai dengan kegoncangan yang ditandai dengan datangnya haid (menstruasi) pertama bagi wanita dan mimpi dewasa pada pria. Kejadian yang menentukan ini tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya. Ada yang mulai pada umur 12 tahun, ada yang sebelum itu dan ada pula yang sesudah umur 13 tahun. Tapi secara keseluruhan ditentukan umur 13 tahun sebagai permulaan masa remaja (adolescence). Sedangkan akhir masa remaja itu bermacam-macam, ada yang mengatakan umur 15 tahun, ada pula yang menentukan umur 18 tahun. Batas-batas umur yang bermacam-macam itu baik 15, 18, 21, maupun 25 tahun adalah wajar dan cocok bagi masing-masing masyarakat sesuai dengan nilai dan ukurannya masing-masing, sesuai dengan nilai dan ukurannya sendiri-sendiri.

Ketika   dihinggapi rasa takut, bingung dan gelisah menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan, takut setelah berbuat dosa dan melanggar aturan agama. Kegelisahan selalu membayangi diri menjadi rasa takut gagal karena kesalahan yang diperbuatnya. Mereka membayangkan diri  menjadi apa di masa depan, mereka juga memperhatikan bagaimana orang-orang dewasa menghadapi berbagai kesulitan mereka.

Emosi remaja biasanya memang labil, jika mencintai seseorang atau sesuatu, ia akan mencintainya secara berlebihan dan berusaha mengaitkan dirinya dengan yang dicintainya itu. Saat mengagumi sosok tertentu, ia akan menceritakannya kepada banyak orang dan memujinya habis-habisan. Sama halnya ketika membenci seseorang atau sesuatu, mereka pun akan membencinya secara berlebihan sehingga perlu ada nasehat yang arif di sini.

Selain itu konflik yang terjadi dengan orang tuanya menjadi sumber kegelisahanya juga  dan ini menjadikan pertentangan nilai-nilai agama yang mereka pelajari dengan sikap dan tindakan orang tua, guru, pemimpin-pemimpin agama yang sangat menggelisahkan mereka. Kegelisahan ini menjadikannya perasaan yang peka terhadap kritikan orang lain, tidak berani  bercerita dengan siapa pun kecuali dengan orang yang benar-benar dipercaya yang nantinya membuatnya tidak  akan bersedih dan sakit hati ketika mendapat kritikan tersebut. Ia beranggapan bahwa orang di sekitarnya tidak dapat memahami dirinya, bahkan memiliki rasa dendam dan anti pati kepada orang tuanya serta kepada orang lain yang tidak disukainya. Banyak orang tua yang melakukan kesalahan karena memperlakukan remaja sama seperti orang dewasa, walaupun orang tua  menganggap anaknya yang  remaja masih sebagai anak kecil. Kesalahan seperti itu akan membuat mereka menjauhi orang tua karena dianggap tidak bisa memahami diri mereka.

Pertentangan yang terjadi dalam dirinya,  dorongan – dorongan seks mengitari hari-harinya karena mereka ingin bergaul erat dengan lawan jenis  atau ingin berbuat semaunya mengikuti dorongan-dorongan yang timbul dalam dirinya itu, akan tetapi pertentangan dengan larangan-larangan atau pantangan-pantangan agama dan nilai-nilai sosial. Dari  dorongan-dorongan seks itu, kemudian terlibat dalam pelanggaran-pelanggaran susila akan mengalami kegoncangan pula karena perbuatan-perbuatan tersebut ada dalam dirinya.

Rasa berdosa dan menyesal pada dirinya itu, sangat menggoncangkan keimanan dan keyakinan agamanya sehingga bertaubat dalam Islam merupakan usaha terbaik untuk mengembalikan keseimbangan setelah merasa berdosa itu. Perasaan berdosa itu selalu menghantuinya berasa kotor dan tidak berguna, karena perasaan remaja terhadap Allah bukanlah perasaan yang tetap, tidak berubah-ubah, akan tetapi perasaan yang bergantung kepada perasaan emosi yang sangat cepat. Kebutuhan akan Allah kadang-kadang tidak terasa, apabila jiwa mereka dalam keadaan aman tenteram dan tenang, terkadang merasa aman dan tenang tapi sebaliknya Allah sangat dibutuhkannya jika mereka gelisah, takut, bingung, putus asa karena menghadapi kegagalan, atau mungkin merasa berdosa, melanggar  atas perbuatan yang pernah dilakukannya. Sehingga perlu membaca Alqur’an, banyak beristighfar, berzikir dan solat taubat untuk mengurangi kesedihan dari kegagalannya, menenangkan diri dari ketakutan dan rasa penyesalannya. Akan  bertambah rajin beribadahnya ketika merasa bersalah (berdosa). Semakin besar rasa dosanya semakin banyak ibadahnya dan sebaliknya apabila rasa dosa itu berkurang maka berkuranglah ibadahnya. Maka ibadah untuk menentramkan hati yang gelisah, karena perasaan bersalah dan merasa kalah menghadapi dorongan-dorongan yang sedang mengikuti arus darah mudanya dalam pergaulan. Menghadapi keadaan seperti ini bimbingan harus terus menerus dilakukan dalam membimbing dan mengarahkan remaja dengan baik agar mereka mencintai kehidupan beragama dan mau meningkatkan ketaatan mereka kepada Allah dengan cara-cara yang halus.

Banyak  yang  merasa terganggu jika terlalu banyak diarahkan, didikte dan diperintah  oleh orang tuanya sehingga sangat mungkin mereka akan menolak ajaran orang tua yang keras,  yang terlalu diatur sehingga menjadikan dirinya merasa tertekan, tidak bebas dan mencari pelampiasan dirinya keluar yang tentu saja  membahayakan fisik dan jiwanya.

Kehidupan dan perkembangan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh bagaimana orang tua mendidik dan membesarkannya serta memperlakukannya sejak kecil. Mereka tumbuh menjadi orang yang berkepribadian kuat dan pemurah, atau orang yang berkelakuan buruk, tidak berkepribadian dan tidak mempunyai sikap. Kepribadian kuat ditumbuhkan dengan cara membiasakan berdiskusi dan memberinya kesempatan untuk melontarkan pendapat dan pemikirannya sendiri.

Meluruskan pendapat jika mereka keliru bertindak dan bertentangan dengan ajaran agama harus dilakukan dengan ungkapan-ungkapan yang lembut, menjadi pendengar yang baik atas masalah dan curahan hatinya serta bijak ketika berdiskusi dengan mereka. Dalam penyelesaian masalah perlu adanya musyawarah dalam menangani urusan-urusan keluarga dan sekolah. Misalnya, diskusi tentang pentingnya silaturahmi dengan saudara, perencanaan sekolah, materi pelajaran , sibuk berorganisasi dan berkelompok menunjukkan sikap mengerti dan memahami kegoncangan serta perkembangan yang remaja hadapi, disertai dengan penjelasan tentang arti dan manfaat agama itu bagi mereka, maka remaja akan merasa butuh kepada ajaran dan ketentuan agama untuk mengembalikan ketenangan dan kestabilannya.

Dr. Hasan Syamsi Basya memberikan tips mengarahkan remaja dalam laku kehidupan sehari-hari antara lain, mengarahkan remaja mencintai agamanya dan mau meningkatkan ketaatan mereka kepada Allah dengan cara yang baik dan dimengerti oleh mereka. Menyentuh nalar, hati dan perasaan anak remaja dengan obrolan-obrolan yang ilmiah, rasional dan kata-kata yang bijak. Remaja sejak dini diajarkan agar ia mencintai agamanya dan gemar beribadah. Ini perlu bantuan kakak atau saudaranya yang lebih tua untuk membimbing dan mengajaknya mengerjakan ibadah dan mendalami pengetahuan agama, menjelaskan bahwa tempat bergantung satu-satunya ketika  kita menghadapi berbagai kesulitan dan masalah adalah Allah Swt.  Mengingatkan  bahwa Allah senantiasa mengawasi gerak-geriknya, sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur’an yang artinya “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang  tersembunyi dalam dada”, membiasakan untuk menjaga pandangannya, menghindari  mendengar kata-kata buruk dan tercela, meminta izin saat ingin mendengar, melihat, bertanya atau melakukan sesuatu.

Ketika mereka telah akil balig, meminta izin terlebih dahulu saat hendak masuk rumah, masuk kamar dan ruangan orang lain, atau tempat-tempat khusus lainnya. Maksudnya adalah agar orang lain yang berada di dalam ruangan tersebut tidak terkejut melihat kedatangannya, dan agar ia tidak melihat atau mendengar sesuatu yang terlarang baginya.

Betapa pentingnya pendidikan keluarga dalam membentuk kepribadian menjadi anak soleh, berkepribadian kuat serta menjalankan ajaran agama Islam yang  benar. Allah telah memerintahkan orang tua untuk mendidik anak-anaknya, mendorongnya untuk memikulkan tanggung jawab kepada mereka . Sarankan untuk selalu sibuk dan menyibukkan dirinya dari hari ke hari, mengaktualisasikan dirinya dengan bergaul,  jangan suka menyendiri dan asik dengan gawainya.

Selanjutnya di dalam pendidikan di sekolah mereka harus dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ketika proses belajar di sekolah harus  betul-betul melaksanakan kewajibannya dengan baik, berkeinginan untuk terus berprestasi dan menunjukkan kesungguhannya dalam belajar. Pembiasaan-pembiasaan dalam bersosialisasi dengan teman, guru dan warga sekolah dengan santun, berakhlak, menyapa dengan salam, menebarkan senyum dan berbaik sangka dalam bergaul dengan semua teman-temannya.

Latihan-latihan dalam kegiatan ekstrakurikuler benar-benar dipilih sesuai dengan minat dan bakatnya agar dapat berkembang dan meningkat kualitas dirinya. Kedisiplinan masuk dan pulang sekolah, solat tepat pada waktunya, memperhatikan guru ketika mengajar, mengerjakan tugas dengan baik akan melatih diri dalam meningkatkan kehidupannya kelak. Sibuk dan terus menerus sibuk untuk mengaktualisasikan dirinya menjadikan dirinya berguna dan semakin memnggunakan waktu dengan maksimal.

Pendidikan di sekolah baik itu pendidikan umum maupun pendidikan agama sama-sama pentingnya sebagai bekal hidup mereka untuk hidup di akhirat (beribadah), tanpa melupakan kebutuhan di dunia sebagaimana dalam Qs. al Qashash ayat 77. Jika remaja tidak dapat mengendalikan dirinya dari pergaulan yang dilarang agama, akan terjadi penyimpangan-penyimpangan yang merugikan. Sebagai contoh kasus di atas yaitu pergaulan yang mengarah seks bebas dan mengakibatkan kehamilan di luar nikah. Remaja yang mengalami hal ini tentu saja rugi bagi diri dan lingkungannya. Dia akan dikucilkan, masa depannya terhenti karena harus merawat janin yang ada dalam rahimnya, kemudian harus membesarkan bayi dengan pendidikan  belum sempurna didapat karena pendidikan agama yang rendah yang dipunyainya. Belum lagi penyesalan yang akan dihadapi selama hidup karena penilaian masyarakat terhadap dirinya.

Disinilah peran kita semua dalam mendidik remaja harus terus dikembangkan ke arah kegiatan yang positif dan membangun dirinya menyusun masa depannya. Lingkungan masyarakat harus  menumbuh kembangkan kegiatan-kegiatan keagamaan yang melibatkan mereka, agar mereka mempunyai andil dalam bermasyarakat. Kegiatan solat berjamaah di masjid, pengajian Al Qur’an di musolla atau di majlis ta’lim, pertemuan ikatan remaja masjid dan kegiatan rohis (kerohanian Islam) di sekolah yang disusun secara berkala dan berkelanjutan akan menjadikan lingkungan Islami dan masyarakat yang beragama. Dan ini tentu saja membuatnya terhindar dari perilaku-perilaku menyimpang  bertentangan dengan agama melalui kegiatan-kegiatan positif yang membuatnya sibuk dan mengenali siapa dirinya.

                                                       Tangerang, 24 Setember 2019


BIODATA PENULIS

Nama                                      
NIP                                        
Pangkat/Golongan                 
Tempat Tugas                        
Alamat Tempat Tugas           
Tempat/Tanggal lahir            
Alamat                                
Pendidikan Terakhir              
Pengalaman Mengajar          
Pengalaman Organisasi   
   

Karya Ilmiah yang  ditulis :



:
:
:
:
:
:
:
:
:
:


:



Rakhmi Ifada, S.Ag.,M.Pd.I
197210172009012001
Penata Tk I /III d
SMAN 1 Cigombong Kab. Bogor
Jl.  HR Edi Sukma no. 297 Cigombong  Bogor
Kudus, 17 Oktober 1972
Kp. Caringin rt.01/02 no. 63 Desa caringin Kec. Caringin Kabupaten Bogor kode pos 16730
S.2 Universitas Ibn Khaldun Bogor
2014 – sekarang  SMAN 1 Cigombong Bogor
Sekretaris MGMP PAI SMA Kab. Bogor 2012
Bendahara MGMP PAI SMA Kab. Bogor 2019

Membangun Pendidikan Islam : Sebuah Pendekatan Kurikulum, 2015
Konsep Pendidikan Agama Pada Remaja menurut Zakiah Daradjat, 2016
Penggunaan Metode Match The Words dalam Pembelajaran Mawaris, 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *